Sukses itu Anugerah
Asep Hermawan Permana
Asep Hermawan Permana
v Makna
kesuksesan
v Arti
v Karakteristik
Orang-Orang Sukses
v Kisah
Orang-Orang Sukses
v Kenapa
Kita Harus Sukses
v Kesuksesan
Sejati
v Bagaimana
Menjadi Orang Sukses
v Mensyukuri
Kesuksesan
v Be
your self !!!!!
Makna
Kesuksesan
1.
A.Makna Kesuksesan/
http://nichwans.wordpress.com/2011/10/15/makna-kesuksesan/
Jika kita ditanya, apakah anda ingin sukses?
Tentu dengan tegas kita akan menjawab : “saya ingin sukses!, bahkan sangat
ingin sekali sukses”. Begitu pula jika kita bertanya kepada orang lain. Coba
kita tanya suami, saudara, tetangga atau siapa saja orang yang kita temui.
Apakah mereka juga menginginkan kesuksesan sama seperti kita yang
menginginkannya? Hampir dapat dipastikan mereka semua akan memberikan jawaban
yang sama, yaitu meraka pun ingin sukses. Tidak ada seorangpun yang
menginginkan sebaliknya. Tak akan ada orang yang menginginkan kegagalan dalam
hidupnya. Bahkan orang yang sekarang sudah sukses pun seringkali ingin menjadi
lebih sukses lagi. Pendek kata, kesuksesan adalah harapan semua orang. Sehingga
kita bisa melihat, begitu banyak orang yang mengejar kesuksesan. Mereka rela
mengeluarkan tenaga dan pikiran. Tak sedikit yang mengorbankan waktu
mereka dan juga pengorbanan lainnya. Semua itu dilakukan hanya untuk mengejar
apa yang dinamakan kesuksesan.
Lantas
apa sih sebenarnya makna kesuksesan itu. Sampai-sampai begitu banyak orang yang
mengiginkannya bahkan rela berkorban untuk mendapatkannya? Kemudian apa
batasannya sehingga seseorang dapat dikatakan sukses? Jika pertanyaannya
seperti ini, maka masing-masing orang akan mempunya jawaban yang berbeda satu
sama lain. Misal, seorang anak SMA yang mengikuti tes masuk sebuah perguruan
tinggi, bisa saja ia dikatakan sukses jika ia benar-benar berhasil masuk ke
perguruan tinggi tersebut. Berbeda dengan seorang pegawai. Mereka bisa saja
dikatakan sukses jika berhasil mendapatkan gaji besar serta posisi enak di
tempat kerjanya. Lain halnya dengan seorang artis, penyanyi, entertainer
atau apalah sebutannya, mungkin baru dikatakan sukses jika album yang
mereka buat terjual hingga ribuan copy di masyarakat. Kemudian mereka mendapat
banyak penghargaan, sanjungan, dan pujian dari sana-sini.
Begitupun
bagi seorang pengusaha, pejabat atau lainnya. Ukuran kesuksesan mereka tentu
berbeda satu dengan lainnya. Dari sini jelaslah bahwa arti kesuksesan itu
mungkin berbeda-beda untuk setiaap orang. Walaupun begitu, kita tetap
bisa mendefinisikan arti sukses secara umum, dimana yang dimaksud sukses adalah
berhasil mendapatkan/mencapai apa yang dinginkan atau dicita-citakan
Sehingga
bagi seseorang yang bercita-cita dapat masuk ke perguruan tinggi ternama,
mungkin ia akan merasa sukses jika ia benar-benar dapat masuk ke perguruan
tinggi tersebut. Bagi seseorang yang bercita-cita ingin jadi artis penyanyi,
bintang film, atau entertainer. Mungkin ia akan merasa sukses jika ia telah
benar-benar berhasil menerbitkan album, atau membintangi sebuah film. Bagi
orang yang bercita-cita ingin menjadi pejabat, memiliki mobil mewah, memiliki rumah
mewah, atau bercita-cita menjadi pengusaha. Mungkin mereka akan merasa sukses
jika telah benar-benar dapat mewujudkan semua yang dicita-citakannya. Inilah
mungkin makna sukses yang difahami oleh kebanyakan orang. Mereka memahami pula
bahwa kesuksesan akan membawa kepada kebahagiaan. Sementara ketidak suksesan
atau kegagalan akan menghasilkan ketidak bahagia atau bahkan kesengsaraan.
Makna
kesuksesan yang seperti ini, sebenarnya lahir dari pemahaman serba materi atau
materialistis yang memang saat ini telah menguasai kehidupan kita. Materi telah
dijadikan alat ukur satu-satunya dalam menentukan sukses tidaknya seseorang.
Sehingga jika ada seseorang yang taat beragama, jujur, dan juga amanah. Hanya
karena pekerjaannya serabutan, rumahnya pun mengontrak (kontraktor),
kemana-mana hanya jalan kaki atau paling banter naik sepeda, tidak dipandang
sukses di mata masyarakat. Tapi sebaliknya, seseorang yang punya mobil mewah,
rumah gedong, pekerjaan yang terhormat bahkan terkenal diseantero negeri,
masyarakat memandangnya sebagai orang sukses. Padahal bisa jadi mereka
mendapatkan semua itu dengan mengesampingkan agama, mengorbankan kejujuran,
harga diri, bahkan bertindak semena-mena. Maka dari contoh ini, nampaklah bahwa
pandangan hidup seseorang akan mempengaruhi pula pandangannya mengenai arti
kesuksesan. Oleh karena itu pandangan seorang muslim terhadap kesuksesan
ini haruslah didasarkan kepada pandangan hidupnya sebagai seorang muslim, yakni
akidah Islam.
Dalam
hal kesuksesan dan kebahagiaan ini, Islam memiliki definisi dan batasan yang
amat jelas yang semestinya diyakini oleh seorang muslim. Dimana menurut
Islam, seseorang dapat dikatakan sukses, bukan karena harta yang berhasil ia
kumpulkan. Bukan karena jabatan yang berhasil ia duduki. Begitu pula bukan karena
rumah mewah, mobil mewah beserta segala isinya yang ia miliki, dan bukan pula
karena berbagai bentuk materi duniawi yang mampu ia kumpulkan di dunia ini.
Semua itu, tidak pernah sedikitpun disebut-sebut di dalam Islam agar seseorang
disebut sukses. Satu-satunya kesuksesan hakiki menurut Islam yang seharusnya
kita raih, adalah ketika kita berhasil mendapatkan keridhoan Allah dan
berhasil memasuki surganya Allah SWT. Hal ini disebutkan di dalam firman
Allah SWT :
أَعَدَّ
اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (at-taubah:89)
“Allah
telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (al-maidah:119)
”Allah
berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar
kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah
keberuntungan yang paling besar.”
Keberuntungan
yang paling besar sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi, adalah kesuksesan
sesungguhnya yang layak diperjuangkan oleh seorang manusia khususnya seorang
muslim.
Maka
bagi seorang muslim yang menginginkan kesuksesan, haruslah menjadikan keridhoan
Allah SWT sebagai target utama dalam kehidupannya. Memang tidak ada salahnya
jika ia menginginkan pencapaian-pencapaian yang bersifat materi. Memiliki rumah
mewah, memiliki kendaraan lebih dari satu, tidaklah terlarang bagi seorang
muslim. Begitu pula tidaklah berdosa ketika seorang muslim ingin menjadi
pengusaha, pejabat negara, atau kedudukan-kedudukan tinggi lainnya. Asalkan
semua itu, tidak memalingkannya dari usaha untuk mencapai target tertinggi
kehidupannya, yakni meraih keridhoan Allah SWT. Dan memang Islam juga
telah memberikan panduan yang jelas bagaimana agar kita bisa mencapai target
tertinggi tersebut.
Hanya
saja, meskipun Islam telah menjelaskan makna dari kesuksesan dan kebahagiaan
serta telah memberikan panduan kesuksesan itu, tetapi pada kenyataannya
tetap saja banyak manusia yang memilih jalan lainnya. Sehingga keadaan mereka
di dunia ini pun menjadi beragam. Seorang ulama pernah mengelompokan keadaan
manusia dalam hubungannya dengan kesuksesan atau kebahagiaan ini menjadi empat
golongan :
1.
سعيد فى الدنيا وسقى فى الأخرة Pertama, orang yang bahagia/sukses di dunia tapi celaka
di akhirat. Orang seperti ini banyak kita temukan dalam kehidupan kita. Di
dunia dia kaya, punya rumah mewah, mobil mewah, istri cantik atau suami tampan.
Dia punya jabatan dan dikenal banyak orang. Akan tetapi semuanya didapatkan
dengan jalan menghalalkan segala cara. Dia tinggalkan aturan agama, dia
kesampingkan syariat Allah bahkan kekayaan yang dimilikinya itu semakin
membuatnya lupa akan tujuan dirinya diciptakan, yakni untuk menyembah dan
beribadah kepada Allah SWT. Orang seperti ini menjadikan hidupnya hanya untuk
mengejar kekayaan dunia. Bahkan seringkali mereka pun menghalang-halangi dan
memusuhi para penyeru kepada jalan kebaikan. Maka orang yang terlalu mencintai
kehidupan dunia dan lupa akhirat sesungguhnya dia akan celaka di akhirat.
2.
سقى فى الدنيا وسعيد فى الأخرة Kedua, orang yang celaka di dunia namun bahagia di akhirat.
Celaka disini maksudnya ketika di dunia dia miskin dan hidup serba pas-pasan
tetapi kemiskinanya itu tidak membuatnya gelap mata hingga meninggalkan aturan
Allah SWT. Seluruh perintah dan kewajiban dari Allah tetap ia kerjakan. Begitu
pula dengan larangan dan yang diharamkan-Nya, senantiasa ia jauhi. Maka orang
seperti ini, meskipun di dunia terlihat tidak sukses di mata masyarakat, akan
tetapi di akhirat kelak akan digolongkan sebagai orang yang sukses dan bahagia
اولئك هم الفاءزون
3.
سقى فى الدنيا وسقى فى الأخرة Ketiga, orang yang celaka di dunia dan di akhirat. Golongan
yang ketiga ini, adalah yang paling merugi. Sudahlah miskin di dunia, rumah
ngontrak, pekerjaan tidak punya, segala sesuatunya serba kurang ditambah lagi
ia tidak mau melaksanakan aturan dan hukum-hukum Allah SWT. Dia membangkang
kepada Allah, dia tidak mau beribadah, kewajiban dia tinggalkan, malah
sebaliknya dia malah mengerjakan larangan-larang Allah SWT. Pendek kata, ia
menjalani hidup ini sekehendak hati dan nafsunya belaka. Naudzubillah tsumma
naudzubillah minzalik. Orang seperti ini banyak kita temukan disekitar
kita bahkan kita sering melihat orang seperti ini ada juga yang sombong. Ya
Allah … Ya Karim … kalau orang kaya tapi sombong itu wajar tapi kalau orang
yang semacam ini apa yang mau disombongkan?
4.
سعيد فى الدنيا وسعيد فى الأخرة Keempat, orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Nah
,,,, inilah idaman setiap insan, ketika di dunia dia mempunyai harta banyak,
hidup serba berkecukupan, keluarga yang bahagia terlebih lagi punya anak-anak
yang sholeh. Dia dengan kekayaannya tidak lupa untuk selalu beribadah kepada
Allah dan senantiasa berbuat kebaikan, contohnya memberi sedekah pada orang
miskin dan anak yatim karena dia tahu bahwa harta yang dia peroleh terdapat hak
orang lain. Orang semacam inilah yang akan menjadi penghuni surga kelak. Semoga
kita bisa menjadi manusia yang seperti ini ,,, Amin ya Rabbal Alamin ,,,
Dari
keempat kelompok manusia tadi, mungkin yang terakhir inilah kelompok yang
paling ideal. Kalau pun kita tidak berhasil menjadi kelompok yang ke empat ini,
paling tidak kita mengusahakan untuk menjadi kelompokyang jedua. Yakni yang
meskipun di dunia tidak begitu berhasil. Kita tidak bisa kaya, tidak bisa punya
rumah mewah, ataupun kendaraan serta jenis kekayaan lainnya. Tapi jangan sampai
kita tidak mendapatkan kesuksesan di akhirat kelak.
Dari
sini jelaslah bahwa kesuksesan hakiki menurut Islam adalah kesuksesan nanti di
akhirat. Adapun kesuksesan hidup di dunia ini hanyalah kesuskesan semu saja.
Karena sesungguhnya, apa yang kita dapatkan di dunia ini, kekayaan yang kita
kumpulkan, kedudukan yang kita raih, dan semua pencapaian duniawi kita akan
kita tinggalkan begitu saja ketika kita mati nanti. Maka nasib kita
sesungguhnya adalah keadaan kita nanti di akhirat. Apakah kita bisa sukses di
sana atau sebaliknya.
B.makna kesuksesan/ http://andriksugianto.com/sudah-sukseskah-anda.html
SUKSES sebuah kata sederhana yang sering kita ucapkan
bahkan sering kita jadikan pemacu semangat dalam segala hal, tapi sebenarnya
apa makna kesuksesan itu? sudahkah kita memberikan makna kesuksesan itu lebih dalam?
Kesuksesan
selalu diidentikkan dengan materi dan kekayaan, orang dikatakan sukses jika telah
mendapatkan materi dan kekayaan pada level tertentu. Padahal tidak demikian
hakikatnya? sukses itu relatif, artinya dilihat dari segi manakah kita
menilainya. Dari pencapai kesuksesan itu, dari standar pencapaiannya, atau dari
sudut pandang yang lain.
Beberapa waktu yang
lalu tetangga dekat rumah saya pulang dari merantau diJakarta, konon kabarnya
dia menjadi bos pedagang bakso keliling, ketika pulang kampung dia sudah
mengendarai mobil, rumahnya besar dan bagus, dan dari cerita orang tabungannya
sudah lebih dari cukup. Banyak orang membicarakan dia, orang
sekampung setuju untuk mengatakan dia telah sukses dalam pekerjaannya.
Nah…dari contoh sederhana ini pandangan masyarakat selama ini jelas mengatakan
bahwa sukses itu kaya, kaya itu banyak materi, padahal seberapa besar standar
orang dikatakan kaya, sampai saat ini pun belum jelas. Mungkin bagi orang desa
memiliki mobil dikatakan kaya, tapi bagi orang kota mobil adalah kebutuhan
pokok untuk mobilitas mereka, jadi punya mobil belum tentu kaya . Ini
baru sedikit pandangan kaya berdasarkan materi, lebih jauh lagi sebenarnya yang
dimaksud kaya itu bukan hanya dilihat dari segi materi kan? mungkin juga kaya
ilmu, kaya hati, atau kaya – kaya yang lain. Salah satu contoh kaya hati adalah
bisa tidaknya kita bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah. Akan tetapi
jika seseoang yang kaya ilmu atau kaya hati, dalam pandangan miring masyarakat
tidak disebut kaya.
Kembali
kepada kesuksesan, pandangan keliru tentang kesuksesan menganggap bahwa sukses
itu adalah tujuan, sebenarnya tidak demikian adanya. Sukses itu
merupakan suatu perjalanan menuju sasaran hidup yang dikehendakinya dan
bermanfaat baik bagi dirinya dan orang lain. Jadi jelaslah sekarang bahwa
kesuksesan itu bersifat relatif dan tidak hanya berpusat pada materi, karena
tujuan itu tidak harus memperoleh materi, sasaran hidup juga bukan hanya
materi. Ada segi-segi lain dimana materi bukan menjadi nomor satu, tapi juga
tidak munafik kita memang perlu materi. Bagi anak SD kelas satu berhasil
menulis sebuah kata adalah sebuah kesuksesan, tapi tidak bagi anak kelas dua
SD. Mungkin anak kelas dua SD bisa merangkai kalimat itu kesuksesan
bagi mereka, tapi tidak bagi anak kelas tiga SD dan begitu
seterusnya. Jadi intinya sukses itu relatif dan merupakan proses atau perjalanan bukan destinasi atau tujuan.
Lebih
lanjut lagi mari kita simak pendapat John C Maxwell, dalam bukunya ia merumuskan untuk menjadi
orang sukses itu harus REAL.
1. Relationship atau hubungan, yakni kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan
dan bergaul dengan orang lain.
2. Equipping atau melengkapi, maksudnya seberapa besar impian yang anda
miliki, anda harus mencapainya dengan bantuan dan dukungan orang lain.
3. Attitude atau sikap, sikap ini menentukan bagaimana seseorang memandang
kehidupan setiap harinya yang akan menentukan kesuksesannya.
4. Leadership, atau
kepemimpinan, yakni faktor ketrampilan diri dalam memimpin untuk menjalani
hidup secara efektif.
Dalam
hubungannnya dengan blogging, apa yang bisa kita ambi dari pendapat Maxwell
ini?
·
Hubungan,untuk menjadi seorang
blogger yang berkualitas kita harus menjalin hubungan dengan blogger
lain, pupuk tali silaturahmi, jangan malas untuk blogwalking, karena mungkin
kita akan mendapatkan ilmu diartikel teman yang saat ini belum kita
ketahui
·
Saling melengkapi, kita adalah
manusia biasa, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua
hal kita ketahui, maka hendaknya kita saling melengkapi. Nah jalinlah kerjasama sesama blogger
untuk saling melengkapi.
·
Sikap, sebagai seorang blogger
kita hendaknya bersikap arif dan bijaksana. Tunjukan sikap anda sebagai blogger yang profesional, berikan
penghargaan pada hasil karya teman sesama blogger, dengan memberikan komentar
yang bermanfaat jangan hanya kejar setoran untuk mendapatkan backlink saja.
Ingat jika kita mau menghargai orang insyallah kita juga akan dihargai orang.
Jika ingin artikel kita dibaca orang maka jangan malas untuk membaca artikel
orang.
·
Kepemimpinan, Blog ini ibaratkan
perusahaan kita, kita adalah direktur utamanya, kita adalah tehnisi, kita
adalah karyawan dan mungkin kita adalah tukang sapunya, maka tempatkanlah kita
pada posisi memimpin, ya paling tidak kita harus berdisiplin diri sebagai salah
satu upaya untuk memimpin diri.
Nah kembali kepada
pertanyaan awal sudah suksesah kita dalam ngeblog?
Jawablah dengan pasti
iya, walau mungkin anda (termasuk saya) belum mendapatkan apapun yang sesuai
keinginan kita, tetapi disalah satu sisi kita telah sukses, ingat sukses adalah
sebuah proses, dan perjalanan bukan hasil akhir.
Mungkin saat ini kita hanya bisa
menulis artikel sederhana saja, ya…anda telah SUKSES!
Mungkin saat ini kita hanya bisa
belajar tentang dasar-dasar worpress saja, ya kita telahSUKSES
Mungkin saat ini hanya bisa
menjadi reseller dan belum punya produk untuk dijual, yakinlah kita telah SUKSES
dan
jika nanti kita benar-benar telah mendapatkan hasil itu pun juga disebut
kesuksesan, tetapi perlu diingat jangan sampai kita terlena dengan hasil
sementara ini. Karena kesuksesan itu adalah proses dan tidak pernah berakhir.
Kita akan sukses jika kita dapat mengenali diri kita
2.
Arti Kesuksesan/
http://bob-sadino.com/kabar-kabari/bincang/16-apa-arti-kesuksesan.html
APA ARTI KESUKSESAN
Bob Sadino: Sepiring Nasi Kesuksesan
(kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses).
(kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses).
masandry.com – Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti Bob Sadino,
ternyata begitu sederhana. “Kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan
besok saya dapat makan, saya sudah sukses,” ungkap bos Kemchicks Group ini. Ia
bilang, banyak orang tidak pernah memahami arti sepiring nasi. Makan dianggap
sebagai kewajaran jika orang tidak punya masalah untuk mendapatkan makanan.
Tapi bagi orang yang pernah lapar, pernah tidak makan, sepiring nasi mempunyai
arti yang sangat besar dan sangat mendalam. “Mungkin titik berangkat saya itu
yang membuat saya bisa begini hari ini,” tutur Bob, yang pernah jadi sopir
taksi dan nguli di Jakarta dengan upah Rp100 per hari.
Bob, yang lulus SMA tahun 1953 itu
mengkritik keras kecenderungan para orang tua yang malas mendidik sendiri
anak-anaknya. Para orang tua itu melepaskan tanggungjawab mendidik anak dan
seenaknya membebankan tugas itu pada sekolah. Akhirnya, sering mereka
memaksakan kehendak pada anak-anak dalam hal memilih jenis pendidikan. Padahal,
kata pengusaha gaek yang pernah ikut-ikutan temannya kuliah di Fakultas Hukum
UI ini, semua anak bebas menentukan pilihan. Namun itulah egoisnya orang tua.
Tanpa sadar mereka sedang memperkosa pikiran anak-anak.
Bagi Bob, keteladanan sangat
bermakna untuk membangun mental seseorang. “Bukan dengan memicu dan memacu,
karena banyak orang yang tidak mau dipicu dan dipacu,” tegas Bob. Ia mengaku
sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, tetapi juga memberi pilihan
sebebas-bebasnya. Disiplin harus ditegakkan, tapi kemandirian juga harus
ditumbuhkan. Itulah semangat Bob dalam menggerakkan para karyawan di Kemchicks
Group, yang mana mereka dianggapnya sebagai anak-anak sendiri.
Teramat sayang jika orang hanya mengingat
seorang Bob Sadino sebagai pengusaha nyentrik, yang kemana-mana pakai celana
pendek. Makin digali, makin ketemulah sosoknya sebagai seorang Master
Kehidupan. Bahasanya bernuansa sufistik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana,
lugas, dan kadang provokatif namun kaya makna itu, menjadikannya bak seorang
“Guru Zen” dalam hal bisnis. “Saya ini seperti sebuah gitar tua di atas meja.
Apakah saya bisa mengalunkan irama yang indah atau buruk, tergantung siapa yang
memetiknya,” ungkap Bob saat didesak untuk mengeluarkan seluruh ‘ilmunya’ oleh
Edy Zaqeus.
Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak bakalan pernah bisa mengenal “tehnya” Bob Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut petikan wawancara antara Bob Sadino, sang “Guru Zen” bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara berlangsung sepanjang perjalanan dari rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak bakalan pernah bisa mengenal “tehnya” Bob Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut petikan wawancara antara Bob Sadino, sang “Guru Zen” bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara berlangsung sepanjang perjalanan dari rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Wawancara ini merupakan salah satu
bab dari buku best seller berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien,
2004)
Modal sering menjadi hambatan bagi yang ingin berwirausaha.
Pandangan Anda?
“Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit. Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang. Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi.”
“Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit. Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang. Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi.”
Soal ketidakberanian mengambil risiko, jika berdasarkan
perhitungan risikonya terlalu besar. Komentar Anda?
“Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau mengitung kalau duit saya tidak punya? Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat!”
“Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau mengitung kalau duit saya tidak punya? Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat!”
Apa cukup mengandalkan keberanian ambil risiko saja?
“Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko, kan? Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan….”
“Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko, kan? Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan….”
Pernah mengalami kegagalan dalam usaha?
“Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!”
“Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!”
Soal mental kewirausahaan masyarakat kita?
“Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja. Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap orang lain mengikuti Anda. Itu saja!”
“Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja. Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap orang lain mengikuti Anda. Itu saja!”
Bukankah itu pasif?
“Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? “Kamu besok berhenti saja jadi wartawan, kamu ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!”
“Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? “Kamu besok berhenti saja jadi wartawan, kamu ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!”
Konon dalam usaha perlu ‘naluri bisnis’ (instinct) atau feeling.
Anda sendiri?
“Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena saya sudah melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang dikatakan orang instinct atau feeling.”
“Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena saya sudah melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang dikatakan orang instinct atau feeling.”
Kalau soal ‘hoki’ atau keberuntungan?
“Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya, sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil.”
“Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya, sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil.”
Bagaimana dengan leadership dalam menghidupkan usaha?
” Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!”
” Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!”
Kalau anak-anak tidak mampu melaksanakan apa yang Anda inginkan?
” Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan anak saya dari pengetahuannya saja? Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak, kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit, luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung jawab. Saya melaksanakan tugas saya sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada. Tidak ada bedanya.”
” Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan anak saya dari pengetahuannya saja? Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak, kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit, luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung jawab. Saya melaksanakan tugas saya sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada. Tidak ada bedanya.”
Usaha sudah besar, urusan makin banyak, sistem makin rumit.
Bagaimana mempertahankan semua ini?
” Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan. Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan dewasanya anak-anak?”
” Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan. Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan dewasanya anak-anak?”
Tidak selamanya orang bisa lurus
terus. Kadang meyimpang, kadang melakukan kesalahan?
” Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan kesalahan, silahkan! Bebas kok. Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia sakit sendiri”.
” Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan kesalahan, silahkan! Bebas kok. Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia sakit sendiri”.
Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak?
“Dua-duanya boleh. Merdeka kok!”
“Dua-duanya boleh. Merdeka kok!”
Kedengarannya kok tidak ada mekanisme reward and punishment?
” Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya. Punishment juga karena kelakuan dia sendiri. Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi? Saya paling menghindari perkataan punishment”.
” Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya. Punishment juga karena kelakuan dia sendiri. Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi? Saya paling menghindari perkataan punishment”.
Lebih utama pengalaman atau sesuatu yang didapat dari bangku
sekolah?
” Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah Andrias (penulis buku-buku best seller: red), saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah.”
” Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah Andrias (penulis buku-buku best seller: red), saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah.”
Siapa guru-guru terbaik Anda?
“Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan, batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah.”
“Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan, batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah.”
Mungkin ada kekhawatiran kalau tidak sekolah nanti tidak bisa
hidup?
” Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak sebaliknya, malah karena sekolah dia nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang tua, yang saya ingat adalah obrolan saya dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang tua yang percaya, bahwa dengan sekolah anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang lain. Kalau kamu menghendaki anakmu melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois. Bukankah setiap anak itu bebas memilih apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran anakmu. Itu menurut Bob Sadino!”
” Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak sebaliknya, malah karena sekolah dia nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang tua, yang saya ingat adalah obrolan saya dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang tua yang percaya, bahwa dengan sekolah anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang lain. Kalau kamu menghendaki anakmu melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois. Bukankah setiap anak itu bebas memilih apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran anakmu. Itu menurut Bob Sadino!”
Ada pemikiran, pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak?
” Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah”.
” Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah”.
Apakah ide-ide semacam ini bagus untuk orang-orang di bangku
sekolah?
” Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses, jawaban saya sangat sederhana dan sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses.”
” Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses, jawaban saya sangat sederhana dan sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses.”
Mungkin orang merasa tidak aman jika meninggalkan sekolah dan
tidak punya ijazah?
” Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat mereka? Kemarin saya ke IPB sedang mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu, berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya. Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik sendiri anaknya.”
” Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat mereka? Kemarin saya ke IPB sedang mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu, berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya. Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik sendiri anaknya.”
Waktu kecil pernah punya cita-cita?
” Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, ‘benar nggak?’ berarti kamu tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh, kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya”.
” Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, ‘benar nggak?’ berarti kamu tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh, kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya”.
Bagi Anda apa makna sukses itu?
” Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat dimakan besok? Saya menghargai itu karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang adalah itu. Makan dianggap taken for granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan. Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu tanya mereka….”
” Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat dimakan besok? Saya menghargai itu karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang adalah itu. Makan dianggap taken for granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan. Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu tanya mereka….”
Ada saat-saat khusus untuk meditasi atau refleksi diri?
” Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak, itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha..”
” Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak, itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha..”
Setelah seperti sekarang ini, ke depan apalagi yang Anda harapkan?
” Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan keesokan harinya saya bisa makan, dan saya puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu mengukur saya itu sekarang, kamu melihat saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik bagi saya.
” Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan keesokan harinya saya bisa makan, dan saya puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu mengukur saya itu sekarang, kamu melihat saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik bagi saya.
Demikian arti sukses menurut bob
sadino…..saya yakin anda pun akan mempunyai arti kesuksesan sendiri. Semoga
tulisan ini bermanfaat …salam sukses yang luaaar biasa!!!
Tulisan ini diambil dari
www.pembelajar.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar