Kamis, 10 November 2011

1.Sukses itu Anugerah/Asep Hermawan Permana








Sukses itu Anugerah
  Asep Hermawan Permana

v Makna kesuksesan
v Arti
v Karakteristik Orang-Orang Sukses
v Kisah Orang-Orang Sukses
v Kenapa Kita Harus Sukses
v Kesuksesan Sejati
v Bagaimana Menjadi Orang Sukses
v Mensyukuri Kesuksesan
v Be your self !!!!!


                                             Makna Kesuksesan
  1.        A.Makna Kesuksesan/ http://nichwans.wordpress.com/2011/10/15/makna-kesuksesan/
Jika kita ditanya, apakah anda ingin sukses? Tentu dengan tegas kita akan menjawab : “saya ingin sukses!, bahkan sangat ingin sekali sukses”. Begitu pula jika kita bertanya kepada orang lain. Coba kita tanya suami, saudara, tetangga atau siapa saja orang yang kita temui. Apakah mereka juga menginginkan kesuksesan sama seperti kita yang menginginkannya? Hampir dapat dipastikan mereka semua akan memberikan jawaban yang sama, yaitu meraka pun ingin sukses. Tidak ada seorangpun yang menginginkan sebaliknya. Tak akan ada orang yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya. Bahkan orang yang sekarang sudah sukses pun seringkali ingin menjadi lebih sukses lagi. Pendek kata, kesuksesan adalah harapan semua orang. Sehingga kita bisa melihat, begitu banyak orang yang mengejar kesuksesan. Mereka rela mengeluarkan tenaga dan pikiran. Tak sedikit yang mengorbankan  waktu mereka dan juga pengorbanan lainnya. Semua itu dilakukan hanya untuk mengejar apa yang dinamakan kesuksesan.
Lantas apa sih sebenarnya makna kesuksesan itu. Sampai-sampai begitu banyak orang yang mengiginkannya bahkan rela berkorban untuk mendapatkannya? Kemudian apa batasannya sehingga seseorang dapat dikatakan sukses? Jika pertanyaannya seperti ini, maka masing-masing orang akan mempunya jawaban yang berbeda satu sama lain. Misal, seorang anak SMA yang mengikuti tes masuk sebuah perguruan tinggi, bisa saja ia dikatakan sukses jika ia benar-benar berhasil masuk ke perguruan tinggi tersebut. Berbeda dengan seorang pegawai. Mereka bisa saja dikatakan sukses jika berhasil mendapatkan gaji besar serta posisi enak di tempat kerjanya. Lain halnya dengan seorang artis, penyanyi, entertainer  atau apalah sebutannya, mungkin baru dikatakan sukses jika album yang mereka buat terjual hingga ribuan copy di masyarakat. Kemudian mereka mendapat banyak penghargaan, sanjungan, dan pujian dari sana-sini.
Begitupun bagi seorang pengusaha, pejabat atau lainnya. Ukuran kesuksesan mereka tentu berbeda satu dengan lainnya. Dari sini jelaslah bahwa arti kesuksesan itu mungkin berbeda-beda untuk setiaap orang.  Walaupun begitu, kita tetap bisa mendefinisikan arti sukses secara umum, dimana yang dimaksud sukses adalah berhasil mendapatkan/mencapai apa yang dinginkan atau dicita-citakan
Sehingga bagi seseorang yang bercita-cita dapat masuk ke perguruan tinggi ternama, mungkin ia akan merasa sukses jika ia benar-benar dapat masuk ke perguruan tinggi tersebut. Bagi seseorang yang bercita-cita ingin jadi artis penyanyi, bintang film, atau entertainer. Mungkin ia akan merasa sukses jika ia telah benar-benar berhasil menerbitkan album, atau membintangi sebuah film. Bagi orang yang bercita-cita ingin menjadi pejabat, memiliki mobil mewah, memiliki rumah mewah, atau bercita-cita menjadi pengusaha. Mungkin mereka akan merasa sukses jika telah benar-benar dapat mewujudkan semua yang dicita-citakannya. Inilah mungkin makna sukses yang difahami oleh kebanyakan orang. Mereka memahami pula bahwa kesuksesan akan membawa kepada kebahagiaan. Sementara ketidak suksesan atau kegagalan akan menghasilkan ketidak bahagia atau bahkan kesengsaraan.
Makna kesuksesan yang seperti ini, sebenarnya lahir dari pemahaman serba materi atau materialistis yang memang saat ini telah menguasai kehidupan kita. Materi telah dijadikan alat ukur satu-satunya dalam menentukan sukses tidaknya seseorang. Sehingga jika ada seseorang yang taat beragama, jujur, dan juga amanah. Hanya karena  pekerjaannya serabutan, rumahnya pun mengontrak (kontraktor), kemana-mana hanya jalan kaki atau paling banter naik sepeda, tidak dipandang sukses di mata masyarakat. Tapi sebaliknya, seseorang yang punya mobil mewah, rumah gedong, pekerjaan yang terhormat bahkan terkenal diseantero negeri, masyarakat memandangnya sebagai orang sukses. Padahal bisa jadi mereka mendapatkan semua itu dengan mengesampingkan agama, mengorbankan kejujuran, harga diri, bahkan bertindak semena-mena. Maka dari contoh ini, nampaklah bahwa pandangan hidup seseorang akan mempengaruhi pula pandangannya mengenai arti kesuksesan. Oleh karena itu pandangan seorang muslim  terhadap kesuksesan ini haruslah didasarkan kepada pandangan hidupnya sebagai seorang muslim, yakni akidah Islam.
Dalam hal kesuksesan dan kebahagiaan ini, Islam memiliki definisi dan batasan yang amat  jelas yang semestinya diyakini oleh seorang muslim. Dimana menurut Islam, seseorang dapat dikatakan sukses, bukan karena harta yang berhasil ia kumpulkan. Bukan karena jabatan yang berhasil ia duduki. Begitu pula bukan karena rumah mewah, mobil mewah beserta segala isinya yang ia miliki, dan bukan pula karena berbagai bentuk materi duniawi yang mampu ia kumpulkan di dunia ini. Semua itu, tidak pernah sedikitpun disebut-sebut di dalam Islam agar seseorang disebut sukses. Satu-satunya kesuksesan hakiki menurut Islam yang seharusnya kita raih, adalah ketika kita berhasil mendapatkan keridhoan Allah  dan berhasil memasuki surganya Allah SWT. Hal ini disebutkan di dalam  firman Allah SWT :
 أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  (at-taubah:89)
“Allah telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (al-maidah:119)
 ”Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar.”
Keberuntungan yang paling besar sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi, adalah kesuksesan sesungguhnya yang layak diperjuangkan oleh seorang manusia khususnya seorang muslim.
Maka bagi seorang muslim yang menginginkan kesuksesan, haruslah menjadikan keridhoan Allah SWT sebagai target utama dalam kehidupannya. Memang tidak ada salahnya jika ia menginginkan pencapaian-pencapaian yang bersifat materi. Memiliki rumah mewah, memiliki kendaraan lebih dari satu, tidaklah terlarang bagi seorang muslim. Begitu pula tidaklah berdosa ketika seorang muslim ingin menjadi pengusaha, pejabat negara, atau kedudukan-kedudukan tinggi lainnya. Asalkan semua itu, tidak memalingkannya dari usaha untuk mencapai target tertinggi kehidupannya, yakni meraih keridhoan Allah SWT.  Dan memang Islam juga telah memberikan panduan yang jelas bagaimana agar kita bisa mencapai target tertinggi tersebut.
Hanya saja, meskipun Islam telah menjelaskan makna dari kesuksesan dan kebahagiaan serta telah  memberikan panduan kesuksesan itu, tetapi pada kenyataannya tetap saja banyak manusia yang memilih jalan lainnya. Sehingga keadaan mereka di dunia ini pun menjadi beragam. Seorang ulama pernah mengelompokan keadaan manusia dalam hubungannya dengan kesuksesan atau kebahagiaan ini menjadi empat golongan :

1.    سعيد فى الدنيا وسقى فى الأخرة  Pertama, orang yang bahagia/sukses di dunia tapi celaka di akhirat. Orang seperti ini banyak kita temukan dalam kehidupan kita. Di dunia dia kaya, punya rumah mewah, mobil mewah, istri cantik atau suami tampan. Dia punya jabatan dan dikenal banyak orang. Akan tetapi semuanya didapatkan dengan jalan menghalalkan segala cara. Dia tinggalkan aturan agama, dia kesampingkan syariat Allah bahkan kekayaan yang dimilikinya itu semakin membuatnya lupa akan tujuan dirinya diciptakan, yakni untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Orang seperti ini menjadikan hidupnya hanya untuk mengejar kekayaan dunia. Bahkan seringkali mereka pun menghalang-halangi dan memusuhi para penyeru kepada jalan kebaikan. Maka orang yang terlalu mencintai kehidupan dunia dan lupa akhirat sesungguhnya dia akan celaka di akhirat.
2.    سقى فى الدنيا وسعيد فى الأخرة Kedua, orang yang celaka di dunia namun bahagia di akhirat. Celaka disini maksudnya ketika di dunia dia miskin dan hidup serba pas-pasan tetapi kemiskinanya itu tidak membuatnya gelap mata hingga meninggalkan aturan Allah SWT. Seluruh perintah dan kewajiban dari Allah tetap ia kerjakan. Begitu pula dengan larangan dan yang diharamkan-Nya, senantiasa ia jauhi. Maka orang seperti ini, meskipun di dunia terlihat tidak sukses di mata masyarakat, akan tetapi di akhirat kelak akan digolongkan sebagai orang yang sukses dan bahagia  اولئك هم الفاءزون
3.    سقى فى الدنيا وسقى فى الأخرة Ketiga, orang yang celaka di dunia dan di akhirat. Golongan yang ketiga ini, adalah yang paling merugi. Sudahlah miskin di dunia, rumah ngontrak, pekerjaan tidak punya, segala sesuatunya serba kurang ditambah lagi ia tidak mau melaksanakan aturan dan hukum-hukum Allah SWT. Dia membangkang kepada Allah, dia tidak mau beribadah, kewajiban dia tinggalkan, malah sebaliknya dia malah mengerjakan larangan-larang Allah SWT. Pendek kata, ia menjalani hidup ini sekehendak hati dan nafsunya belaka. Naudzubillah tsumma naudzubillah minzalik.  Orang seperti ini banyak kita temukan disekitar kita bahkan kita sering melihat orang seperti ini ada juga yang  sombong. Ya Allah … Ya Karim … kalau orang kaya tapi sombong itu wajar tapi kalau orang yang semacam ini apa yang mau disombongkan?
4.    سعيد فى الدنيا وسعيد فى الأخرة  Keempat, orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Nah ,,,, inilah idaman setiap insan, ketika di dunia dia mempunyai harta banyak, hidup serba berkecukupan, keluarga yang bahagia terlebih lagi punya anak-anak yang sholeh. Dia dengan kekayaannya tidak lupa untuk selalu beribadah kepada Allah dan senantiasa berbuat kebaikan, contohnya memberi sedekah pada orang miskin dan anak yatim karena dia tahu bahwa harta yang dia peroleh terdapat hak orang lain. Orang semacam inilah yang akan menjadi penghuni surga kelak. Semoga kita bisa menjadi manusia yang seperti ini ,,, Amin ya Rabbal Alamin ,,,
Dari keempat kelompok manusia tadi, mungkin yang terakhir inilah kelompok yang paling ideal. Kalau pun kita tidak berhasil menjadi kelompok yang ke empat ini, paling tidak kita mengusahakan untuk menjadi kelompokyang jedua. Yakni yang meskipun di dunia tidak begitu berhasil. Kita tidak bisa kaya, tidak bisa punya rumah mewah, ataupun kendaraan serta jenis kekayaan lainnya. Tapi jangan sampai kita tidak mendapatkan kesuksesan di akhirat kelak.
Dari sini jelaslah bahwa kesuksesan hakiki menurut Islam adalah kesuksesan nanti di akhirat. Adapun kesuksesan hidup di dunia ini hanyalah kesuskesan semu saja. Karena sesungguhnya, apa yang kita dapatkan di dunia ini, kekayaan yang kita kumpulkan, kedudukan yang kita raih, dan semua pencapaian duniawi kita akan kita tinggalkan begitu saja ketika kita mati nanti. Maka nasib kita  sesungguhnya adalah keadaan kita nanti di akhirat. Apakah kita bisa sukses di sana atau sebaliknya.
SUKSES sebuah kata sederhana yang sering kita ucapkan bahkan sering kita jadikan pemacu semangat dalam segala hal, tapi sebenarnya apa makna kesuksesan itu? sudahkah kita memberikan makna kesuksesan itu lebih dalam?
Kesuksesan selalu diidentikkan dengan materi dan kekayaan, orang dikatakan sukses jika telah mendapatkan materi dan kekayaan pada level tertentu. Padahal tidak demikian hakikatnya? sukses itu relatif, artinya dilihat dari segi manakah kita menilainya. Dari pencapai kesuksesan itu, dari standar pencapaiannya, atau dari sudut pandang yang lain. 
Beberapa waktu yang lalu tetangga dekat rumah saya pulang dari merantau diJakarta, konon kabarnya dia menjadi bos pedagang bakso keliling, ketika pulang kampung dia sudah mengendarai mobil, rumahnya besar dan bagus, dan dari cerita orang tabungannya sudah lebih dari cukup.  Banyak orang membicarakan dia, orang sekampung  setuju untuk mengatakan dia telah sukses dalam pekerjaannya. Nah…dari contoh sederhana ini pandangan masyarakat selama ini jelas mengatakan bahwa sukses itu kaya, kaya itu banyak materi, padahal seberapa besar standar orang dikatakan kaya, sampai saat ini pun belum jelas. Mungkin bagi orang desa memiliki mobil dikatakan kaya, tapi bagi orang kota mobil adalah kebutuhan pokok untuk mobilitas mereka, jadi punya mobil belum tentu kaya .  Ini baru sedikit pandangan kaya berdasarkan materi, lebih jauh lagi sebenarnya yang dimaksud kaya itu bukan hanya dilihat dari segi materi kan? mungkin juga kaya ilmu, kaya hati, atau kaya – kaya yang lain. Salah satu contoh kaya hati adalah bisa tidaknya kita bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah. Akan tetapi jika seseoang yang kaya ilmu atau kaya hati, dalam pandangan miring masyarakat tidak disebut kaya.
Kembali kepada kesuksesan, pandangan keliru tentang kesuksesan menganggap bahwa sukses itu adalah tujuan, sebenarnya tidak demikian adanya. Sukses itu merupakan suatu perjalanan menuju sasaran hidup yang dikehendakinya dan bermanfaat baik bagi dirinya dan orang lain. Jadi jelaslah sekarang bahwa kesuksesan itu bersifat relatif dan tidak hanya berpusat pada materi, karena tujuan itu tidak harus memperoleh materi, sasaran hidup juga bukan hanya materi. Ada segi-segi lain dimana materi bukan menjadi nomor satu, tapi juga tidak munafik kita memang perlu materi. Bagi anak SD kelas satu berhasil menulis sebuah kata adalah sebuah kesuksesan, tapi tidak bagi anak kelas dua SD. Mungkin anak kelas dua SD  bisa merangkai kalimat itu kesuksesan bagi mereka, tapi tidak bagi anak kelas tiga SD dan begitu seterusnya. Jadi intinya sukses itu relatif dan merupakan proses atau perjalanan bukan destinasi atau tujuan.

Lebih lanjut lagi mari kita simak pendapat John C Maxwell, dalam bukunya ia merumuskan untuk menjadi orang sukses itu harus REAL.
1.       Relationship atau hubungan, yakni kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dan bergaul dengan orang lain.
2.       Equipping atau melengkapi, maksudnya seberapa besar impian yang anda miliki, anda harus mencapainya dengan bantuan dan dukungan orang lain.
3.       Attitude atau sikap, sikap ini menentukan bagaimana seseorang memandang kehidupan setiap harinya yang akan menentukan kesuksesannya.
4.       Leadership, atau kepemimpinan, yakni faktor ketrampilan diri dalam memimpin untuk menjalani hidup secara efektif.

 Dalam hubungannnya dengan blogging, apa yang bisa kita ambi dari pendapat Maxwell ini?
·         Hubungan,untuk menjadi seorang blogger yang berkualitas kita harus menjalin hubungan dengan blogger lain, pupuk tali silaturahmi, jangan malas untuk blogwalking, karena mungkin kita akan mendapatkan ilmu diartikel teman yang saat ini belum kita ketahui
·         Saling melengkapi, kita adalah manusia biasa, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua hal kita ketahui, maka hendaknya kita saling melengkapi. Nah jalinlah kerjasama sesama blogger untuk saling melengkapi.
·         Sikap, sebagai seorang blogger kita hendaknya bersikap arif dan bijaksana. Tunjukan sikap anda sebagai blogger yang profesional, berikan penghargaan pada hasil karya teman sesama blogger, dengan memberikan komentar yang bermanfaat jangan hanya kejar setoran untuk mendapatkan backlink saja. Ingat jika kita mau menghargai orang insyallah kita juga akan dihargai orang. Jika ingin artikel kita dibaca orang maka jangan malas untuk membaca artikel orang.
·         Kepemimpinan, Blog ini ibaratkan perusahaan kita, kita adalah direktur utamanya, kita adalah tehnisi, kita adalah karyawan dan mungkin kita adalah tukang sapunya, maka tempatkanlah kita pada posisi memimpin, ya paling tidak kita harus berdisiplin diri sebagai salah satu upaya untuk memimpin diri.

Nah kembali kepada pertanyaan awal sudah suksesah kita dalam ngeblog?
Jawablah dengan pasti iya, walau mungkin anda (termasuk saya) belum mendapatkan apapun yang sesuai keinginan kita, tetapi disalah satu sisi kita telah sukses, ingat sukses adalah sebuah proses, dan perjalanan bukan hasil akhir.
Mungkin saat ini kita hanya bisa menulis artikel sederhana saja, ya…anda telah SUKSES!
Mungkin saat ini kita hanya bisa belajar tentang dasar-dasar worpress saja, ya kita telahSUKSES
Mungkin saat ini hanya bisa menjadi reseller dan belum punya produk untuk dijual, yakinlah kita telah SUKSES
dan jika nanti kita benar-benar telah mendapatkan hasil itu pun juga disebut kesuksesan, tetapi perlu diingat jangan sampai kita terlena dengan hasil sementara ini. Karena kesuksesan itu adalah proses dan tidak pernah berakhir. Kita akan sukses jika kita dapat mengenali diri kita

 

 APA ARTI KESUKSESAN

Bob Sadino: Sepiring Nasi Kesuksesan
(kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses).
masandry.com – Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti Bob Sadino, ternyata begitu sederhana. “Kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses,” ungkap bos Kemchicks Group ini. Ia bilang, banyak orang tidak pernah memahami arti sepiring nasi. Makan dianggap sebagai kewajaran jika orang tidak punya masalah untuk mendapatkan makanan. Tapi bagi orang yang pernah lapar, pernah tidak makan, sepiring nasi mempunyai arti yang sangat besar dan sangat mendalam. “Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini,” tutur Bob, yang pernah jadi sopir taksi dan nguli di Jakarta dengan upah Rp100 per hari.
Bob, yang lulus SMA tahun 1953 itu mengkritik keras kecenderungan para orang tua yang malas mendidik sendiri anak-anaknya. Para orang tua itu melepaskan tanggungjawab mendidik anak dan seenaknya membebankan tugas itu pada sekolah. Akhirnya, sering mereka memaksakan kehendak pada anak-anak dalam hal memilih jenis pendidikan. Padahal, kata pengusaha gaek yang pernah ikut-ikutan temannya kuliah di Fakultas Hukum UI ini, semua anak bebas menentukan pilihan. Namun itulah egoisnya orang tua. Tanpa sadar mereka sedang memperkosa pikiran anak-anak.
Bagi Bob, keteladanan sangat bermakna untuk membangun mental seseorang. “Bukan dengan memicu dan memacu, karena banyak orang yang tidak mau dipicu dan dipacu,” tegas Bob. Ia mengaku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, tetapi juga memberi pilihan sebebas-bebasnya. Disiplin harus ditegakkan, tapi kemandirian juga harus ditumbuhkan. Itulah semangat Bob dalam menggerakkan para karyawan di Kemchicks Group, yang mana mereka dianggapnya sebagai anak-anak sendiri.
Teramat sayang jika orang hanya mengingat seorang Bob Sadino sebagai pengusaha nyentrik, yang kemana-mana pakai celana pendek. Makin digali, makin ketemulah sosoknya sebagai seorang Master Kehidupan. Bahasanya bernuansa sufistik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana, lugas, dan kadang provokatif namun kaya makna itu, menjadikannya bak seorang “Guru Zen” dalam hal bisnis. “Saya ini seperti sebuah gitar tua di atas meja. Apakah saya bisa mengalunkan irama yang indah atau buruk, tergantung siapa yang memetiknya,” ungkap Bob saat didesak untuk mengeluarkan seluruh ‘ilmunya’ oleh Edy Zaqeus.

Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak bakalan pernah bisa mengenal “tehnya” Bob Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut petikan wawancara antara Bob Sadino, sang “Guru Zen” bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara berlangsung sepanjang perjalanan dari rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Wawancara ini merupakan salah satu bab dari buku best seller berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien, 2004)
Modal sering menjadi hambatan bagi yang ingin berwirausaha. Pandangan Anda?
“Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit. Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang. Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi.”
Soal ketidakberanian mengambil risiko, jika berdasarkan perhitungan risikonya terlalu besar. Komentar Anda?
“Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau mengitung kalau duit saya tidak punya? Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat!”
Apa cukup mengandalkan keberanian ambil risiko saja?
“Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko, kan? Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan….”
Pernah mengalami kegagalan dalam usaha?
“Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!”
Soal mental kewirausahaan masyarakat kita?
“Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja. Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap orang lain mengikuti Anda. Itu saja!”
Bukankah itu pasif?
“Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? “Kamu besok berhenti saja jadi wartawan, kamu ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!”
Konon dalam usaha perlu ‘naluri bisnis’ (instinct) atau feeling. Anda sendiri?
“Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena saya sudah melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang dikatakan orang instinct atau feeling.”
Kalau soal ‘hoki’ atau keberuntungan?
“Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya, sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil.”
Bagaimana dengan leadership dalam menghidupkan usaha?
” Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!”
Kalau anak-anak tidak mampu melaksanakan apa yang Anda inginkan?
” Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan anak saya dari pengetahuannya saja? Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak, kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit, luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung jawab. Saya melaksanakan tugas saya sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada. Tidak ada bedanya.”
Usaha sudah besar, urusan makin banyak, sistem makin rumit. Bagaimana mempertahankan semua ini?
” Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan. Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan dewasanya anak-anak?”
Tidak selamanya orang bisa lurus terus. Kadang meyimpang, kadang melakukan kesalahan?
” Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan kesalahan, silahkan! Bebas kok. Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia sakit sendiri”.
Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak?
“Dua-duanya boleh. Merdeka kok!”
Kedengarannya kok tidak ada mekanisme reward and punishment?
” Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya. Punishment juga karena kelakuan dia sendiri. Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi? Saya paling menghindari perkataan punishment”.
Lebih utama pengalaman atau sesuatu yang didapat dari bangku sekolah?
” Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah Andrias (penulis buku-buku best seller: red), saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah.”
Siapa guru-guru terbaik Anda?
“Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan, batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah.”
Mungkin ada kekhawatiran kalau tidak sekolah nanti tidak bisa hidup?
” Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak sebaliknya, malah karena sekolah dia nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang tua, yang saya ingat adalah obrolan saya dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang tua yang percaya, bahwa dengan sekolah anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang lain. Kalau kamu menghendaki anakmu melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois. Bukankah setiap anak itu bebas memilih apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran anakmu. Itu menurut Bob Sadino!”
Ada pemikiran, pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak?
” Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah”.
Apakah ide-ide semacam ini bagus untuk orang-orang di bangku sekolah?
” Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses, jawaban saya sangat sederhana dan sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses.”
Mungkin orang merasa tidak aman jika meninggalkan sekolah dan tidak punya ijazah?
” Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat mereka? Kemarin saya ke IPB sedang mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu, berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya. Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik sendiri anaknya.”
Waktu kecil pernah punya cita-cita?
” Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, ‘benar nggak?’ berarti kamu tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh, kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya”.
Bagi Anda apa makna sukses itu?
” Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat dimakan besok? Saya menghargai itu karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang adalah itu. Makan dianggap taken for granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan. Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu tanya mereka….”
Ada saat-saat khusus untuk meditasi atau refleksi diri?
” Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak, itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha..”
Setelah seperti sekarang ini, ke depan apalagi yang Anda harapkan?
” Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan keesokan harinya saya bisa makan, dan saya puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu mengukur saya itu sekarang, kamu melihat saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik bagi saya.
Demikian arti sukses menurut bob sadino…..saya yakin anda pun akan mempunyai arti kesuksesan sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat …salam sukses yang luaaar biasa!!!
Tulisan ini diambil dari www.pembelajar.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar